oleh

Prof. Dr. Din Syamsuddin: Islam dan Pancasila sebagai “Jalan Tengah”

JAKARTA – Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Prof. Dr. Din Syamsuddin mengatakan, walaupun berbeda kategori, yakni Islam sebagai agama berdasarkan wahyu Tuhan dan Pancasila sebagai ideologi buatan manusia, tapi keduanya menekankan prinsip “Jalan Tengah”.

Hal tersebut dikatakan Din Syamsuddin dalam diskusi meja bundar di Oxford Centre for Islamic Studies, Universitas Oxford, Inggris yang berbicara tentang “The Middle Path: Islam and Pancasila for the World Civilization“.

“Hal itu terjadi karena Pancasila itu sendiri merupakan kristalisasi nilai-nilai Islam dalam lingkup kehidupan bernegara,” kata Din Syamsuddin dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Selasa (19/12/2017)

Menurut Din, sebagai agama wahyu terakhir, Islam membawa prinsip kesempurnaan wahyu keseimbangan dan kemaslahatan kemanusiaan. Prinsip Jalan Tengah Islam (wasathiyah), yang menjadikan umat Islam sebagai Umat Tengahan (ummatan wasathan), menekankan prinsip keseimbangan, moderasi, toleransi, dan anti ekstrimitas.

“Begitu pula Pancasila adalah ideologi Jalan Tengah. Posisi tengahan ini antara lain dijelaskan oleh adanya nilai keseimbangan antara orientasi ketuhanan dan kemanusiaan, dan keseimbangan pada orientasi kemanusiaan itu sendiri yaitu antara individualisme dan kolektifisme, yang bermuara pada pentingnya keadilan bagi semua,” jelasnya.

Jalan Tengah Pancasila, lebih lanjut menurut Din, menjelma pada paradigma politik yang menekankan permusyawaratan untuk adanya kesepakatan dan paradigma ekonomi yang tidak kapitalistik dan tidak sosialistik.

“Wawasan Jalan Tengah ini sangat cocok buat peradaban dunia yang rusak dewasa ini lantaran terjebak ke dalam ekstrimisme. Sistem dunia selama ini sangat berwajah antroposentristik, yakni menjadikan manusia sebagai pusat kesadaran, dan kurang berwajah teosentristik yaitu menjadikan Tuhan sebagai pusat kesadaran,” tuturnya.

Akibatnya, peradaban manusia sepi dari nilai-nilai etika dan moral, yang pada giliran berikutnya menciptakan berbagai bentuk ketiadaan damai, seperti kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan hidup, dan berbagai bentuk kekerasan.

“Maka, Wawasan Jalan Tengah dapat menjadi solusi. Perlu ada perubahan Sistem Dunia dan sistem-sistem turunannya ke arah yang berorientasi Jalan Tengah, yakni menekankan keseimbangan, keadilan, dan kemaslahatan kemanusiaan,” ujarnya.

Dalam kaitan inilah, Din menawarkan prinsip Jalan Tengah dari Islam dan Pancasila sebagai ideologi baru dunia untuk adanya tatanan dunia baru yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkeadaban. (Endi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed