Beranda Pilkada Pengamat Politik UIN: Pilkada 2018 Ajang Parpol Gonta-Ganti Paslon

Pengamat Politik UIN: Pilkada 2018 Ajang Parpol Gonta-Ganti Paslon

133
0
BERBAGI

JAKARTA – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 menghadirkan fenomena yang sangat dinamis, terjadinya gonta-ganti Paslon di pilkada, penentuan nama Paslon di ujung waktu, dan serta sulitnya parpol menentukan pasangan calon yang ideal.

Menanggapi fenomena ini, pengamat politik UIN, Adi Prayitno mengatakan prioritas perpol untuk menentukan paslon targetnya adalah menang.

Menurut Adi, ini bukan uji coba karena hanya satu putaran. Tetapi ini penjajakan koalisi yang dilakukan parpol sejauh ini belum solid yang memungkinkan terjadinya bongkar paslon setiap saat.

Adi menambahkan dibalik layar ada kesepakatan politik yang diilakukan secara sepihak tanpa melibatkan teman koalisi.

“Misalnya, PKS cabut dukungan ke Demiz di Jabar karena Demiz punya kesepatan tersembunyi untuk dukung capres demokrat 2019” ungkapnya.

Adi melihat dalam pilkada serentak ada pergerakan peta politik yang dinamis. “Di Sumut misalnya, Golkar dan Nasdem narik dukungan ke Tengku Ery beralih mendukung Edy Rahmayadi. Tak ada yang nyangka, Edy ternyata lebih memiliki daya magnet elektoral ketimbang calon lain” jelasnya

Adi menjelaskan banyak partai yang tak konfiden bahkan gagal mengusung paslon yang akan diusung.

“Misalnya poros Gerindra, PKS, dan PAN di Jatim bubar karena paslon yang akan diusung tak mendapat respon baik publik. Akhirnya, 3 partai ini membelah dukung 2 paslon. PKS dan Gerindra ke Ipul. PAN ke Khofifah” katanya.

Karena koalisi cair, Adi mengatakan Pilkada 2018 ini menegaskan betapa tak ada sekat-sekat ideologis parpol.
“Parpol blok pemerintan dan blok oposisi dalam banyak pilkada bisa bergandengan tangan. Di Jatim, PKS dan Gerindra malah bersatu di barisan Gus Ipul. Di Jateng Demokrat dan PDIP malah mesra” ungkapnya. (bw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here