Beranda Daerah Pilkada Garut : Cabup Petahana di Kejar Cabup Independen, No. 2 dan...

Pilkada Garut : Cabup Petahana di Kejar Cabup Independen, No. 2 dan 4

644
0
BERBAGI
GARUT – FENOMENA soal adanya sejumlah mahar bagi para calon legislatif dan eksekutif mengemuka, banyak kalangan berpendapat bahwa bangunan demokrasi dalam Pemilu sulit terwujud.
Tidak dipungkiri bahwa biaya operasional kampanye membutuhkan biaya yang tak sedikit. Kemudian lobi politik dan dukungan juga memerlukan tidak sekedar hubungan baik dan dekat.
UU KPU mengatur adanya jalur independen bagi calon legislatif atau eksekutif yang ingin maju tidak melewati Partai. Tentu tetap saja harus penuhi berbagai persyaratan.
Pilkada serentak 2018 bagi Calon Kepala Daerah yang maju lewat jalur independen tentu tak banyak, namun sangat menarik untuk diikuti dan seberapa besar peluangnya untuk menang.
Seperti yang terjadi di Pilkada Cabub Kab.Garut elektabilitas paslon independen Suryana – Wiwin, dari data yang dilansir oleh lembaga survey independen paslon ini menarik untuk dikaji.
Elektabilitas yang fluktuatif
Pilkada serentak 27 Juni 2018 mendatang. Kembali Survey digelar pada 7 – 21 Juni 2018 gunakan metode multistage random sampling 635  responden yang tersebar di 424 desa, 21 kelurahan, 42 kecamatan se-kabupaten Garut dengan margin eror plus minus 3,5%.
Didapat hasil survey no urut 1 paslon petahana Rudy Gunawan – Helmi Budiman 29,3%, mengungguli paslon jalur independen Suryana – Wiwin 27,1%, Iman Alirahman – Dedi Hasan Bahtiar 23,4%, Agus Hamdani – Pradana Aditya Wicaksana 13,9% dan 6,3% belum memutuskan.
“Terlalu sulit diprediksi siapa yang akan menangkan pikada cabub Kabupaten Garut periode 2018 – 2023 selisihnya paslon nomor urut 1 yang diusung partai Gerindra, PKS, Nasdem, Perindo dan paslon nomor urut 3 jalur independen tipis, terpaut 2,2% dan ingat masih pemilih yang masih ragu kepada pilihannya sekitar 6,3%,” pungkas Heru Div.Informasi Lembaga Survey Independen Pelangi Kebangsaan, saat dihubungi Kamis (21/6/2018).
Elektabilitas sangat fluktuatif, tidak terjadi dominasi. Seperti Paslon No.2 survey sebelumnya diposisi teratas dengan 30,4% pada survey terakhir bergeser keposisi 3 (23,4%) terjadi penurunan 7%. Juga pada Paslon No.4 sebelumnya diposisi 2 (25,2%) survey terakhir turun keposisi akhir dengan 13,9%, penurunannya cukup signifikan 12%.
Disisi lain ada kenaikan pada paslon petahana nomor urut 1 semula urutan ke 3 (22,8%) lompat keposisi 1 (29,3%), dibayangi paslon nomor 3 dari jalur independen Suryana – Wiwin diposisi 2 (27,1%) sebelumnya urutan terakhir dengan tingkat elektabilitas 11,2%.
Dinamika tampak terjadi disemua paslon yang merupakan hal wajar dalam konteatasi pemilu.
Upaya dan strategi
Dari pantauan dilapangan 2 bulan terakhir terjadi peningkatan eskalasi kampanye para tim kandidat. Pencoblosan 27 Juni 2018 yang tinggal beberapa hari menjadi motivasi pergerakan lebih massive. Kampanye masih diseputar sosialisasi, program kerja, isu, claim dan dukungan tokoh – ormas pada salah satu paslon.
Tentu hal itu diyakini dapat mendulang suara lebih banyak dan dirasa dapat pengaruhi public.
Dilihat dari data perolehan hasil survey bahwa massa pendukung fanatic tidak terlalu dominan jika dibanding jumlah massa mengambang.
Dominasi pendukung fanatic akan terjadi juga dominasi elektabilitas paslon sehingga tidak terjadi pergeseran posisi peringkat. Hal itu tentu akan lebih mudah memprediksi pemenangnya.
Melihat data survey sepertinya masyarakat Kabupaten Garut lebih banyak dipengaruhi media informasi, medsos, tanggapan atau arahan tokoh adat – masyarakat – politik – agama – seni dan budaya.
Sehingga sangat dimungkinkan lonjakan yang terjadi pada paslon independen dari posisi 4 ke posisi 2 diuntungkan oleh statusnya sebagai jalur non-partai, yang ramai diperbincangkan soal anggapan adanya mahar biaya kepada partai untuk biaya kampanye dan lainnya. Tentu banyak variabel lain sehingga meningkat elektabilitasnya.
212 efek
HRS sebagai tokoh penggerak Aksi Bela Islam (ABI – 212) yang diyakini sebagian umat sebagai bangkitnya kesadaran dan persatuan umat, sehingga ada keinginan dari semua komponen dalam gelombang besar ini berkembang hingga mampu lakukan perubahan di Pilkada serentak 2018 hingga Pilpres 2019.
Yang terjadi di Kab Garut bahwa koalisi permanen Geindra – PKS harus menggandeng Partai Nasdem agar penuhi syarat dapat ajukan paslon Bupati dan wakilnya.
Pro – Kontra atas realita koalisi partai Gerindra, PKS, Nasdem dan Perindo sepertinya tidak berpengaruh besar khususnya yang beraviliasi ke PA 212. Yang mana para tokoh ulama yang tergabung dalam PA 212 telah memahami keadaan di Garut kemudian dilakukan berbagai upaya yang tetap mengacu kepada kreteria pemimpin menurut pandangan ulama dan Islam.
Para tokoh ulama di Garut sangat memahami keadaan daerahnya ada semacam kearifan lokal untuk memilih paslon. Tentu paslon yang merujuk pada akad yang didalamnya berisi agenda kesepakatan.
Disadari adanya basis umat turunan PA 212 ada yang memilih ke paslon lain ini bukan merupakan hal besar semua tetap mengacu pada kreteria yang disepakati para ulama PA 212.
Dari hasil survey terlihat adanya pergeseran survey akhir pada 7 – 21 Juni 2018 dimana no urut 1 dan 3 melewati paslon no.2 dan 4 secara mengejutkan.
Perlu diingat bahwa posisi petahana tergolong belum aman. Paslon Suryana – Wiwin  masih mengancam posisi Rudy – Helmi.
Survey akhir mereka terpaut tipis dan maaih ada sekitar 6,3% warga yang sudah punya pilihan namun masih ragu (soft supporter).
“Bisa saja paslon independen melampaui petahana andai 6,3% atau logikanya sekitar 3,15% direbut Suryana – Wiwin. Meski tidak mungkin 100% jumlah soft supporter akan keluar semuanya, paling maximal hanya sekitar 50% itu sudah sangat bagus,” tambah Heru.
Kesemuanya bisa terjadi
Jika saja di 4 hari jelang coblosan suara soft supporter (6,3%) masuk sekitar 3,1% ditambah pengikisan suara paslon lain masuk ke no urut 2 atau no 4. Maka bisa sekali no urut 2 Iman – Dedi atau Agus – Pradana mengejar paslon petahana dan paslon independen. Tentu hal itu sangat bisa terjadi tentu dengan kerja keraa tim dan ijin Tuhan YME tentunya.
Paslon Iman – Dedi di menit akhir jelang coblosan minimal harus bisa menambah 5,6%. Karena selisihnya dengan posisi teratas hanya terpaut 5,6%.
Perlunya mensikapi isu negatif dengan penangan dan pensikapan yang baik agar isu tersebut dapat memberikan manfaat bagi yang mendapat isu tanpa harus lakukan pembalasan isu (berbalas isu). “Sepertinya dengan melemparkan isu kepada pihak lain akan untungkan dirinya. Memang pada umumnya pihak yang terkena isu akan tidak populer atau turun elektabilitasnya, namun jika mampu memanage isu dengan baik maka isu itu akan positif sehingga dapat naikkan elektabilitas,” ujar Heru.
Dari pengamatan dilapangan adanya variable yang membuat paslon petahana dan independen meningkat elektabilitasnya. Dijelang putaran akhir bergabung tokoh agama, ormas dan budaya ke paslon petahana dan independen, yang kesemuanya dasarnya pada akad.
Beberapa waktu lalu bergabung Forum Komunikasi Ulama dan Santri Garut (FOKUS) yang membawahi 60 pesantren di Garut, Laskar ASWAJA, Forum Ulama Mujahid 212 (FUM), Gerakan Umat Alumni 212 (GUA 212) yang diperkirakan mendukung paslon independen.
Ormas tersebut dasarnya adalah akad yang mengacu pada kreteria para ulama PA 212. Apabila tidak terbentuk koalisi partai yang sesuai kreteria maka umat didaerah diberikan kebijakan tersendiri untuk mendukung paslon sebagai bentuk kearifan local dengan tetap merujuk pada PA 212. (AS/ Foto: Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here