Beranda Budaya Kisah Perjuangan Perempuan yang Mengorbankan Mimpinya

Kisah Perjuangan Perempuan yang Mengorbankan Mimpinya

29
0
BERBAGI

Masih dalam semangat merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-73, Galeri Indonesia Kaya bersama Maudy Koesnaedi dan Andi Kanemoto mempersembahkan lakon bertajuk Ronggeng Kulawu.

Naskah yang ditulis oleh Endah Dinda Jenura dan disutradarai oleh Wawan Sofwan itu mengangkat kisah perjuangan seorang penari ronggeng yang mengorbankan mimpi dan harapannya di masa penjajahan Jepang.

“Sosok Maesaroh dalam lakon Ronggeng Kulawu ini, merupakan salah satu gambaran kehidupan perempuan Indonesia di masa penjajahan Jepang,” ujar Wawan Sofwan, sutradara pementasan Ronggeng Kulawu.

Ia bercerita pada masa itu, banyak perempuan yang dibawa dan dipaksa menjadi wanita penghibur dan diperlakukan secara tidak adil. Tidak hanya oleh tentara Jepang saja, para perempuan ini pun juga dipandang sebelah mata oleh orang-orang dari bangsanya sendiri. Mereka hanya dianggap sebagai perempuan yang mengkhianati bangsanya karena hidup bersama penjajah.

Ronggeng Kulawu mengisahkan tentang penari ronggeng dari Dusun Kulawu bernama Maesaroh yang diperankan Maudy Koesnaedi. Bertugas utama menjadi ronggeng adalah membuat suasana semarak dan ceria, dan itu merupakan hal yang mudah bagi Maesaroh. Hingga pada suatu ketika tentara Jepang datang dan memberikan janji-janji kemerdekaan dan harapan yang baru kepada Indonesia yang sebelumnya dijajah Belanda.

Namun ternyata kehidupan mereka tidak mengalami perubahan. Kemerdekaan pun tak kunjung datang, Jepang justru semakin merebut apa saja yang dimiliki Indonesia. Kedatangan Jepang justru semakin menambah petaka bagi bangsa ini, termasuk Maesaroh dan rombongan ronggeng lainnya.

Maudy mengatakan sosok Maesaroh yang diperankannya merupakan salah satu contoh kekejaman para penjajah, namun ia tetap berjuang memperoleh kemerdekaannya.

“Maesaroh merupakan satu dari ratusan perempuan yang menjadi korban kekejaman para penjajah di masa penjajahan Jepang di Indonesia. Banyak hal dan mimpi yang harus ia tinggalkan pada masa itu. Meskipun diperlakukan secara tidak adil, Maesaroh tumbuh menjadi perempuan yang tangguh dan ingin merdeka. Perjuangan Maesaroh tidak hanya untuk melawan penjajah Jepang, tapi juga untuk bangsanya dan dirinya sendiri,” ujar Maudy.

Maesaroh kemudian harus rela dipisahkan dengan Ayahnya dan Kang Uja, lelaki yang berjanji untuk menikahinya setelah Indonesia merdeka. Mereka pun lalu dibawa secara paksa dan dijadikan wanita penghibur bagi tentara Jepang. Mae yang dibawa pergi akhirnya bertemu dengan Kapten Kazuo Ito dan dijadikan gundik. Selama bersamanya ia diperlakukan secara baik. Hidup Mae bersama Kapten Kazuo menjadi jauh lebih baik. Begitupun sebaliknya. Kisah cinta mereka berdua pun dipenuhi latar politik dan kekuasaan antara negeri yang terjajah dan penjajah.

Kemerdekaan yang dirasakan saat ini meruakan hasil dari perjuangan para pahlawan yang telah gugur, namun di balik itu banyak perjuangan perempuan yang ikut memperjuangkan kemerdekaannya.

“Di antara itu semua, tak banyak yang tahu bahwa di balik perjuangan para pahlawan yang bertempur di medan perang, terdapat juga perjuangan para perempuan yang juga menjadi korban kekerasan penjajah. Kami mengajak para penikmat seni untuk menyaksikan perjuangan perempuan untuk merasakan kemerdekaan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Maudy berharap para penonton yang hadir dapat menangkap pesan moral yang ia coba sampaikan pada lakon Ronggeng Kulawu ini. “Saya harap para penikmat seni dapat memahami pesan yang ingin kami sampaikan dalam lakon Ronggeng Kulawu ini,” tutupnya. (koranjakarta.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here