Beranda Nasional Bangun Sitohang: Sumpah Pemuda Dalam Sikap dan Perilaku Berbangsa dan Bernegara

Bangun Sitohang: Sumpah Pemuda Dalam Sikap dan Perilaku Berbangsa dan Bernegara

172
0
BERBAGI

Bangun Sitohang

Coba kita renungkan betapa lelahnya para pejuang kemerdekaan bangsa kita dan para leluhur pemikir perjuangan bangsa Indonesia saat mereka mendirikan negara dengan bangsa Indonesia ini. Sejak pra kebangsaan sampai tanggal 20 Mei 1908 bangkitnya semangat kebangsaan,.  Kemudian tanggal 28 Oktober 1928 sepakat bersumpah satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa (Indonesia), sampai merdeka tanggal 17 Agustus 1945.

Padahal saat itu kita “belum merdeka saja sudah bisa bersatu,” lah kok terbalik setelah menjadi bangsa yang merdeka kita malah rendah daya nalar untuk memahami nilai perjuangan para pendahulu kita. Ingatlah bahwa sebagai penerus kita harus bisa mewariskan nilai-nilai baik yang telah dibangun sebagai jati diri bangsa kita, yaitu Persatuan Indonesia (Sila ke 3 Pancasila). Dari anomali persatuan Indonesia tersebut yang akhir-akhir ini terkesan tidak terawat, muncul pertanyaan, ada apa dengan semangat kebangsaan kita ?

Sebenarnya sederhana saja menjawabnya, kita “lupa sumpah” dan cenderung tidak mau belajar dari sejarah. Setidaknya sejarah menjadi pelajaran perjalanan bangsa yang harus senantiasa kita pegang teguh. Patut kita sadari beberapa hal:

  1. Bahwa kita harus bersyukur kita diberi negara bangsa dengan pengorbanan darah para pejuang, saat ini kita hanya menikmati hasil perjuangan mereka.
  2. Para pejuang kemerdekaan sudah mewariskan tanah tumpah darah Indonesia dengan nilai budaya dan alam yang kaya raya dan kebhinekaan Tunggal Ikanya.
  3.  Kita diwarisi nilai-nilai Pancasila dan Norma Hukum UUD 1945.

Kemudiann apa yang harus kita perbuat dengan warisan-warisan yang telah mereka berikan? Seharusnya kita rawat dan juga kita wariskan kepada generasi kita selanjutnya sebagaimana bangunan estafet kebangsaan sejak 08 ke 28 ke 45 yang cenderung terulang setiap generasi, Bagaimana pewarisan nilai tersebut ? Tentu dimulai dari sikap dan perilaku kita sesuai lingkungan kita, misalnya kalau di keluarga sebaiknya kita menanamkan nilai-nilai kebersamaan kepada anak-anak kita, kemudian di lingkungan non formal (masyarakat di luar rumah kita, misal kelompok paguyuban, arisan, ormas dsb, mari tunjukkan kita itu bersaudara dan jangan saling mencemooh atau saling menganggap paling benar agar di masyarakat tumbuh rasa persamaan pergaulan walau kita saling berbeda suku, agama dan lainnya. Dalam lingkungan formal seperti di lembaga pendidikan; mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA (juga sekolah keagamaan) sampai Perguruan Tinggi, jika posisi kita sebagai guru atau dosen, dalam menyampaikan materi ajar, hendaklah kita objektif dalam keilmuannya dan dalam memberikan pengajaran jangan menanamkan ujaran kebencian atau ajarkanlah melalui sikap kita, betapa pentingnya menjaga nilai keberagaman dalam perbedaan.

Jika kita sebagai pengajar/guru sejak dini telah menanamkan kebaikan paling tidak generasi muda masa mendatang akan lahir pewaris nilai-nilai perjuangan bangsa (seperti butir sumpah pemuda). Selanjutnya siapa yang terdepan dalam pewarisan nilai-nilai perjuangan bangsa tersebut ?

Setidaknya dimulai dari para tokoh masyarakat (baik adat/agama/keyakinan), melalui ketokohannya dalam bersikap dan berhubungan dengan kelompoknya selalu meyakinkan bahwa derajat nilai kebangsaan itu harus dijaga tetap terawat, ini tentu diperlihatkan dengan nilai keteladanan di masing-masing kelompok masyarakatnya. Begitu juga para pelaku ekonomi (para pebisnis) dalam berbisnis hendaknya meyakinkan konsep bisnis yang tetap memperhatikan keadilan sosial sehingga semua hasilnya tidak profit oriented semata, perlu ada sikap koperasi yang gotong royong dalam bangunan bisnisnya. Paling terdepan lagi, adalah para pengambil kebijakan dan pelaksana kebijakan bahkan penegak hukum sesuai tugas pokok dan fungsinya tetap mengedepan hak-hak azasi WNI, mudah caranya yaitu jalankan semua aturan dalam prinsip pelayanan publik yang tidak diskriminatif dan selalu mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok dan golongan. Pengabdian aparatur harus lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.

Dari semuanya, di era demokratisasi saat ini, partai politik sebagai konsep politik perwakilan kita tentu menjadi penjaga gawang politik kebangsaan kita karena untuk jadi Presiden dan Wakil Presiden dari usul parpol, untuk jadi anggota DPR dan DPRD juga usul parpol.

Peran politik parpol tentunya tergantung pelaku politiknya mulai dari DPP, DPW, DPC, PAC dan istilah struktur orpol lainnya. Yang ingin saya katakan, para pimpinan sebagai panutan organisasi harus bisa memberikan pikiran-pikiran politik kebangsaan dengan mengedepankan persatuan Indonesia melalui semangat musyawarah untuk mufakat sehingga setiap keputusan politik adalah cermin kebersamaan, inilah bedanya jika kita pakai voting dalam pengambilan keputusan, bahwa voting secara psikopolitik cenderung show of force yang tidak sesuai dengan semangat kebangsaan, sebab voting adalah kuat-kuatan suara sementara kita sudah sepakat satu bangsa, inilah anomali demokrasi Pancasila.

Akhirnya di era civil society yang semuanya serba terbuka dengan kemajuan iptek alat informasi yang serba on line, perlu kesadaran moral politik kebangsaan bahwa kita semua dari lintas generasi harus sadar “kita pengguna informasi bukan budak informasi. Ini penting saya ungkapkan untuk menyongsong generasi bangsa Indonesia 20 tahunan mendatang 100 tahun Indonesia merdeka TAHUN 2045 (generasi milenial), yang cenderung individualis dan liberalis. Mari kita renungkan sejak dini, mari kita sadar kita sudah merdeka, bersatu, berdaulat, KITA INGAT KEMBALI SUMPAH PEMUDA , Kalau sudah bersumpah harus kita pegang sumpah kita, agar kita tidak dimakan sumpah. Pentingnya kita pegang sumpah, agar kita bisa menuju pembangunan manusia Indonesia yang adil dan makmur. SELAMAT MERAYAKAN SUMPAH PEMUDA Ke 90 tahun. (Zul/Endi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here